me

me
ehv1

Kamis, 14 April 2011

suatu ketika di rumah nenek Sami

seorang anak melihat teman-temannya memiliki baju baru ketika hari raya...lalu iya bertanya kepada orangtuanya, kenapa ia tidak dibelikan baju baru juga....ayahnya menjawab....tak perlulah baju baru, baju yang lama kan masih bisa terpakai...sang anak pun terdiam, walau sebenarnya ia merasa iri terhadap teman-temannya....
Lalu ia melihat teman-temannya sudah mulai memakai handphone, dan ia ingin sekali memiliki handphone, lalu ia meminta pada ibunya...sang ibu pun menjawab....kamu belum perlu Nak, lagipula uangnya lebih baik ditabung untuk biaya sekolahmu nanti, kalau kamu pintar dan sekolah tinggi, kamu bisa membeli apapun kelak....sang anakpun kembali gigit jari dan manyun-manyun karena permintaannya tidak terpenuhi...

di lain hari, ia bertemu dengan teman baiknya, teman baiknya berkata ia baru saja dibelikan sebuah notebook oleh ayahnya, dan dia bisa browsing sepuasnya....sang anak pun dengan semangat kembali ke rumahnya...kembali dia meminta pada orangtuanya....tapi kembali dia tidak mendapatkan apa yang dia inginkan, kata orangtuanya...kan di rumah masih ada komputer papa yang bisa kamu pakai sepuasnya, lebih baik uangnya kita tabung kan...

setelah beberapa kali mengalami penolakan, akhirnya sang anak pun ngambek...dia berkata pada orangtuanya kalau mereka tidak sayang padanya, dan langsung berlari masuk ke kamar....orangtuanya pun hanya bisa geleng2 kepala....
keesokan harinya, sang anak mogok makan, sampai dibelikan notebook..orangtuanya pun hanya bisa mengelus-elus dada....tiba-tiba sang ayah mendapat ide....lalu ia berkata pada anaknya, nak..ayo ikut papa...papa mau menunjukkan sesuatu, kalau setelah ini kamu masih meminta notebook, permintaanmu akan papa pertimbangkan...
mendengar janji manis papanya, sang anak pun bersedia mengikuti papanya...sang ayah membawa anaknya ke perkampungan di belakang kompleks rumahnya...sang anak baru pertama kali ini menginjakkan kaki ke kampung tersebut, walaupun letaknya hanya beberapa blok saja dari rumah mereka.

Di perkampungan itu, sang anak melihat rumah yang bobrok, hanya terdiri dari kayu dan bambu yang sudah lapuk, genteng2 sudah mulai rusak sehingga berisiko bocor ketika hujan...sang ayah mengajak anaknya mengitari kampung...dan berhenti di sebuah rumah tua....sang ayah memanggil seorang nenek...namanya nenek Sami....sang nenek sudah tua renta, usianya hampir 80 tahun, kulitnya sudah keriput, rambutnya sudah putih, jalannya pun sudah bungkuk...
nenek Sami tinggal bersama dengan cucu perempuannya...mereka bekerja sebagai pemulung untuk membiayai hidup mereka....sang anak melihat-lihat ke dalam rumah nenek Sami dan melihat betapa buruknya kondisi rumah tersebut....ubinnya masih tanah, gentengnya bolong2, bahkan dinding rumahnya saja dari anyaman bambu dan rotan lapuk....sementara itu, sang ayah berbincang pada nenek di depan rumah, menanyakan kabar nenek dan sebagainya....setelah puas melihat rumahnya, sang anak pun bergabung dengan ayahnya..dia mendengarkan cerita dari sang nenek, betapa sulitnya mereka untuk makan sehari-hari. cucunya terpaksa berhenti sekolah ketika SD karena kesulitan biaya. mereka bahkan terkadang mengambil beras yang jatuh dari pasar untuk makan.

Dari hasil memulung botol bekas, mereka hanya mendapat 3000-5000 rupiah/kg. sang anak pun membandingkan dengan uang jajannya 10 ribu rupiah sehari, betapa jauh lebih besar, padahal ia tidak harus bersusah payah seperti nenek Sami. setelah berbincang-bincang beberapa saat...tibalah waktu makan siang....nenek Sami menawari ayah dan anak tersebut makan siang....demi menghormati, mereka pun tinggal sejenak untuk makan...yang tersaji hanya ada singkong dari kebun dan garam...untuk makan nasi saja mereka tak mampu (sang anak membatin)...
setelah pulang dari rumah nenek Sami, sang anak pun berkata pada ayahnya : yah..lebih baik uangnya untuk beli notebook diberikan saja pada nenek Sami, supaya cucunya bisa sekolah lagi....aku jauh lebih beruntung dari mereka...terima kasih yah...
Ayahnya pun tersenyum...syukurlah dia mengerti (batin sang ayah), kata ayahnya : di luar sana masih banyak orang yang lebih susah keadaannya dari kita ....apa yang kita punya hendaknya kita syukuri, karena syukur melahirkan sukacita di hati...

kisah ini terinspirasi oleh episode bedah rumah 22/05/09
http://www.youtube.com/watch?v=jpobchBet1g&feature=related